Selasa, 29 April 2008

"Mereka Panggil Saya Saudara Friedman!"

Profesor-profesor Chicago tidak suka jika mahasiswa menyebut diri mereka dengan "Doktor". Karena setiap orang mempunyai gelar tinggi maka panggilan itu dirasa terlalu mewah. Anggota fakultas punva tradisi panjang untuk saling memanggil dengan "Mister" (atau bapak atau saudara). "Saudara Friedman" lebih disukai ketimbang "Profesor Friedman". Dan Pak Friedman ini (seperti ekonom Chicago lainnya) tidak pernah mempublikasikan buku dengan mencantumkan nama "Dr. Milton Friedman Ph.D" di sampul bukunya. Pencantuman gelar seperti itu dianggap kaku.


Sumber bacaan: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: The Lives and Ideas of the Great Thingkers”, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso.

[+/-] Selengkapnya...

Halal Ga Ya? Boleh Ga Ya?

Kalo dulu browsing internet cuma sekedar liat-liat Email, bahan buat tugas, ama download manga, maka sekarang ada insentif lain. Apa lagi kalo bukan: UANG!!! Ini baru saya tahu kurang dari satu bulan lalu, ternyata bisa ya nyari UANG TAMBAHAN dari browsing di internet.

Bohong kalau ga tertarik jika diiming-imingi mendapat uang dengan cara yang mudah. Saya salah satunya. Pastinya ga sembarangan. Kalau cuma sekedar penawaran ga jelas, saya juga males ngeladenin-nya. Tapi setelah mencari referensi dan artikel terkait yang menjelaskan beberapa situs penghasil uang yang ”terpercaya”, ternyata luluh juga hati ini. Jadilah saya ikutan. Relatif MUDAH, dan yang pasti GRATIS. Jadi ga ada risiko kehilangan uang.



Tetapi tetep aja suka muncul pertanyaan: ”beneran ga sih kita bakal dibayar?” Mencari di beberapa blog orang, diantaranya memang menunjukkan bukti bahwa mereka ikut, dan mereka dibayar. Tetapi tetep aja suka muncul keraguan.

Pertanyaan lainnya, ”Boleh ga sih ama agama (Islam)? Halal ga?” Itu pertanyaan terpenting.

Seperti yang diketahui, kebanyakan sistem MLM (kalau ga mau disebut semua) dilarang oleh Islam. Ga hanya sistem MLM aja sih. Perdagangan yang memiliki sifat yang mendekati perjudian pastilah dilarang. Ketidakjelasan apa yang dijual dan keuntungan didapat bukan karena menjual produk juga termasuk dilarang. Apa lagi memperoleh uang tanpa bekerja dan bermalas-malasan, itu lebih tidak disukai lagi.

Trus gimana ya dengan situs-situs penghasil uang yang dimaksud? Di antara situs-situs tersebut, disebutkan bahwa mereka tidak menggunakan sistem MLM (itu menurut mereka), produk yang dijual jelas (itu menurut mereka), dan insentif (kompensasi) diberikan karena kita menyebarkan informasi mengenai mereka (sekali lagi, itu menurut mereka). Apakah benar ato tidak? saya sendiri belum bisa jawab... Kalau ada pembaca yang mau berpendapat, silakan berpendapat. Itung-itung bagi-bagi ilmu-ilmu... Sekalian juga jadi petunjuk buat saya memutuskan apakah akan terus ikutan atau keluar dari kegiatan ini.

Dibagian lain dari blog ini, nantinya saya coba menjelaskan beberapa situs penghasil uang. Karena dalam menjual suatu barang, kita harus memegang prinsip tidak ada informasi yang ditutupi agar nantinya pembeli tidak merasa tertipu, maka akan saya coba jelaskan secara apa adanya, kekurangan dan kelebihannya. Kebanyakan berdasarkan pengalaman (yang masih seumur jagung) saya.

[+/-] Selengkapnya...

The Five Competitive Forces That Shape Strategy

The Idea in Brief

You know that to sustain long-term profitability you must respond strategically to competition. And you naturally keep tabs on your established rivals. But as you scan the competitive arena, are you also looking beyond your direct competitors? As Porter explains in this update of his revolutionary 1979 HBR article, four additional competitive forces can hurt your prospective profits:

  • Savvy customers can force down prices by playing you and your rivals against one another.
  • Powerful suppliers may constrain your profits if they charge higher prices.
  • Aspiring entrants, armed with new capacity and hungry for market share, can ratchet up the investment required for you to stay in the game.
  • Substitute offerings can lure customers away.

Consider commercial aviation: It's one of the least profitable industries because all five forces are strong. Established rivals compete intensely on price. Customers are fickle, searching for the best deal regardless of carrier. Suppliers--plane and engine manufacturers, along with unionized labor forces--bargain away the lion's share of airlines' profits. New players enter the industry in a constant stream. And substitutes are readily available--such as train or car travel.

By analyzing all five competitive forces, you gain a complete picture of what's influencing profitability in your industry. You identify game-changing trends early, so you can swiftly exploit them. And you spot ways to work around constraints on profitability--or even reshape the forces in your favor.



The Idea in Practice

By understanding how the five competitive forces influence profitability in your industry, you can develop a strategy for enhancing your company's long-term profits. Porter suggests the following:

Position Your Company Where the Forces Are Weakest
In the heavy-truck industry, many buyers operate large fleets and are highly motivated to drive down truck prices. Trucks are built to regulated standards and offer similar features, so price competition is stiff; unions exercise considerable supplier power; and buyers can use substitutes such as cargo delivery by rail. To create and sustain long-term profitability within this industry, heavy-truck maker Paccar chose to focus on one customer group where competitive forces are weakest: individual drivers who own their trucks and contract directly with suppliers. These operators have limited clout as buyers and are less price sensitive because of their emotional ties to and economic dependence on their own trucks. For these customers, Paccar has developed such features as luxurious sleeper cabins, plush leather seats, and sleek exterior styling. Buyers can select from thousands of options to put their personal signature on these built-to-order trucks. Customers pay Paccar a 10% premium, and the company has been profitable for 68 straight years and earned a long-run return on equity above 20%.

Exploit Changes in the Forces
With the advent of the Internet and digital distribution of music, unauthorized downloading created an illegal but potent substitute for record companies' services. The record companies tried to develop technical platforms for digital distribution themselves, but major labels didn't want to sell their music through a platform owned by a rival. Into this vacuum stepped Apple, with its iTunes music store supporting its iPod music player. The birth of this powerful new gatekeeper has whittled down the number of major labels from six in 1997 to four today.

Reshape the Forces in Your Favor
Use tactics designed specifically to reduce the share of profits leaking to other players. For example:
  • To neutralize supplier power, standardize specifications for parts so your company can switch more easily among vendors.
  • To counter customer power, expand your services so it's harder for customers to leave you for a rival.
  • To temper price wars initiated by established rivals, invest more heavily in products that differ significantly from competitors' offerings.
  • To scare off new entrants, elevate the fixed costs of competing; for instance, by escalating your R&D expenditures.
  • To limit the threat of substitutes, offer better value through wider product accessibility. Soft-drink producers did this by introducing vending machines and convenience store channels, which dramatically improved the availability of soft drinks relative to other beverages.

Copyright 2008 Harvard Business School Publishing Corporation. All rights reserved.


About the Authors

Michael E. Porter is the Bishop William Lawrence University Professor at Harvard University, based at Harvard Business School in Boston. He is a six-time McKinsey Award winner, including for his most recent HBR article, "Strategy and Society," coauthored with Mark R. Kramer (December 2006).
ParticipateShare your ideas and expertise on this topic.


[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 26 April 2008

Dari Mana Darwin Mendapatkan Teori Evolusinya? dari Malthus!

Pengaruh esai populasi Malthus sangat luas, dan bukan hanya memengaruhi ilmuwan sosial. Pendiri teori evolusi modern, Charles Darwin, berutang budi kepada Malthus dalam menyusun teori seleksi alam dan survival of the fittest. Dalam Autobiography, Charles Darwin mengekspresikan utang budinya ini:

Pada Oktober 1838, lima belas bulan sesudah aku mulai melakukan penelitian sistematik, untuk mengisi waktu aku sempatkan diri membaca buku Malthus yang berisi pandangannya tentang popu­lasi. Saat itu aku sedang bersiap mengajukan tesis perjuangan untuk hidup yang terjadi di mana-mana, yang didasarkan dari pengamatan panjang atas kebiasan hewan dan tumbuhan. Yang mengejutkan saya adalah bahwa dalam keadaan semacam ini variasi yang mampu menyesuaikan diri akan bertahan, sedangkan yang tidak akan lenyap. Hasilnya adalah terbentuknya spesies baru (Darwin).



Yang mengejutkan, Alfred Russell Wallace, yang secara terpisah menemukan teori evolusi organik, juga memuji buku Malthus. Dalam autobiografinya, My Life, Wallace membaca karya Malthus pada yang hampir sama dengan saat Darwin mendapat inspirasi: "Mungkin buku terpenting yang aku baca adalah Essay on Population karya Malthus.... Ini adalah buku pertama yang pernah kubaca yang membahas persoalan biologi filosofis, dan prinsip-prinsip utamanya selalu kuingat selamanya. Dua puluh tahun kemudian prinsip ini memberiku petunjuk yang telah lama kucari untuk menemukan agen efektif dalam evolusi spesies organik" (Wallace).

Esai Malthus mengimplikasikan sebuah proses evolusioner dalam perkembangan manusia. Di dalam Bab 18, dia mengemukakan ide bahwa Tuhan sang Pencipta membutuhkan "proses tertentu .. dan waktu tertentu" untuk menciptakan manusia (Malthus).

Sumber Bacaan: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: The Lives and Ideas of the Great Thingkers”, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso.

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 10 April 2008

Apa yang Dimaksud Keynes dengan “Dalam Jangka Panjang Kita Semua Sudah Mati?”

“Dalam jangka panjang kita semua sudah mati.” Itu merupakan ucapan terkenal yang terlontar dari mulut Keynes.

Ekonom-ekonom berpendapat bahwa ucapannya itu merupakan bentuk penghinaan bagi pandangan klasik yang menganggap bahwa “ekonom harus menjelaskan efek jangka panjang, dan bukan hanya jangka pendek, dari kebijakan-kebijakan pemerintah.”

Saat pertama kali Keynes membuat pernyataan terkenal di atas, dia menggunakannya untuk mengejek monetarisme Irving Fisher, yang menyatakan bahwa inflasi moneter tidak akan berakibat buruk dalam jangka panjang tetapi hanya akan menaikkan harga. Keynes mengecam,


“Kini ‘dalam jangka panjang’ hal itu mungkin benar... tetapi jangka panjang ini adalah pedoman yang menyesatkan untuk persoalan-persoalan yang muncul sekarang. Dalam jangka panjang kita semua sudah mati. Para ekonom akan melakukan tugas yang terlalu mudah, terlalu sia-sia jika dalam cuaca yang bergejolak mereka hanya bisa mengatakan kepada kita bahwa ketika badai sudah berlalu maka laut akan tenang lagi.”


Dikesempatan lain Keynes berkata, “Tugas kita adalah memperpanjang perdamaian, jam demi jam, hari demi hari, selama kita bisa... Saya telah mengatakan dalam konteks lain bahwa ini “jangka panjang” tidak terlalu penting sebab dalam jangka panjang kita semua sudah mati. Tetapi saya juga telah mengatakan bahwa jangka pendek lebih berguna sebab dalam jangka pendek kita masih hidup. Kehidupan dan sejarah tersusun dari jangka pendek-jangka pendek. Jika kita berdamai dalam jangka pendek, itu bagus. Tetapi hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghilangkan bencana.”


Dikutip dari: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: The Lives and Ideas of the Great Thingkers."

[+/-] Selengkapnya...

Alfred Marshall

Tetapi tentu saja ilmu ekonomi tidak bisa dibandingkan dengan ilmu fisika yang pasti, sebab ilmu ekonomi berhubungan dengan kekuatan sifat manusia yang halus dan selalu berubah

[+/-] Selengkapnya...

Paul Samuelson

Tidak ada yang lebih menyakitkan ketimbang mempunyai ekonom atau bekas Insinyur yang mencoba memaksakan analogi antara konsep dan fisika dengan konsep ekonomi

[+/-] Selengkapnya...

Ekonomi dalam Satu Pelajaran

Bagi Joseph Schumpeter, seorang Frederic Bastiat adalah jurnalis ekonomi paling brilian yang pernah hidup. Bastiat adalah pendukung kuat kebijakan perdagangan bebas dan laissez faire, penentang sosialisme yang gigih, dan seorang ahli debat dan negarawan.

Salah satu kisah kiasan Bastiat yang terkenal adalah The Broken Window yang dimuat dalam sebuah pamflet yang berjudul What is Seen and What is Not Seen yang ditulis pada 1850. Isinya tentang kisah Jacques Bonhomme, seorang warga yang gigih. Putranya yang kurang ajar memecahkan sebuah kaca jendela. Pada mulanya orang-orang yang menyaksikannya merasa bersimpati kepada Jacques yang harus membayar enam franc untuk mengganti kaca jendela itu.

Tetapi kemudian mereka mulai berpikir bahwa barangkali kaca jendela yang pecah adalah baik untuk bisnis. Bagaimanapun juga, "apa jadinya nasib pembuat kaca jendela jika tak seorang pun yang memecahkan kaca jendela?" Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah memecahkan jendela itu "akan melancarkan sirkulasi uang, dan akibatnya mendorong industri secara umum." Bastiat menulis, "Itulah yang terlihat”. Pengrusakan itu mendorong peningkatan bisnis kaca jendela.

Tetapi kemudian Bastiat bertanya, "Apa yang tak terlihat?" Dalam analisis tiga tingkat ini Bastiat menunjukkan bahwa Jacques Bonhomme tak lagi punya enam franc untuk membeli sepatu sendiri atau membeli buku untuk perpustakaannya. Bastiat menyimpulkan: "Mari kita pertimbangkan industri secara umum. Kaca jendela baru saja pecah, industri gelas mendapat peningkatan senilai enam franc; itulah yang kelihatan. Jika jendela tidak pecah, industri sepatu (atau industri lainnya) akan mendapatkan peningkatan senilai enam franc; itulah yang tidak kelihatan.

Pelajaran dari cerita ini adalah: "Pengrusakan tidaklah menguntungkan."

Secara umum Bastiat membuat generalisasi tentang peran ekonom dalam mengungkapkan kesalahan: "Hanya ada satu perbedaan antara seorang ekonom yang buruk dan ekonom yang baik: ekonom yang buruk hanya membatasi pada efek yang terlihat; ekonom yang baik mempertimbangkan baik itu efek yang terlihat maupun efek yang harus diperkirakan" (Bastiat).


Sumber Bacaan: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: The Lives and Ideas of the Great Thingkers."

[+/-] Selengkapnya...

Cara Menghentikan Inflasi Menurut Mises

Ludwig von Mises (1881-1973) merupakan salah satu ekonom Austria terkemuka di zamannya. Pada tahun 1912 dia menyelesaikan karya rintisannya yang berjudul The Theory of Money and Credit. Karya ini menyajikan model canggih yang menentang teori kuantitas uang Fisher. Money and Credit memberikan mata rantai yang hilang antara ekonomi mikro dan makro.

Ada cerita menarik mengenai Mises terkait dengan inflasi.

Banyak negara-negara bekas Perang Dunia 1 harus menanggung beban berlebihan sebagai akibat Perjanjian Damai. Austria yang merupakan salah satu diantaranya, mengalami hiperinflasi. Ketika hiperinflasi mencapai puncaknya, komisi dari Liga Bangsa-Bangsa di kirim ke Vienna. Bersama dengan pejabat pemerintah Austria, mereka menemui Mises untuk meminta nasihatnya tentang bagaimana cara mengakhiri inflasi. Mises menjawab dengan kasar, ”Temui saya jam 12 malam di gedung ini dan saya akan memberitahukan caranya.” meskipun tersinggung, para pejabat tetap menuruti permintaannya. Pada tengah malam ditempat yang dijanjikan, mereka kembali bertanya, ”Profesor Mises, bagaimana cara kita bisa menghentikan inflsi?” Mises menjawab, Kalian dengar suara berisik itu? MATIKAN!!”

Ternyata Gedung tempat pertemuan itu adalah kantor percetakkan negara, dan suara berisik itu berasal dari suara mesin yang mencetak uang kertas. Pemerintah Austria akhirnya menghentikan pencetakkan uang kertas dan inflasi pun berakhir.

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 05 April 2008

Irving Fisher Meninggal sebagai Orang yang Bangkrut.

Terkenal sebagai ekonom jajaran atas dengan teori kuantitas uang-nya, menjadi jutawan dengan menciptakan Rolodex (sistem kartu indeks), dan sempat dijuluki ”oracle of Wall Street” (si bijak dari Wall Street) karena status jutawannya, ternyata Irving Fisher meninggal sebagai orang bangkrut. Kesalahannya karena tidak bisa memprediksi datangnya kejatuhan finansial di sepanjang tahun 1929-1932, menjadikan semua hartanya yang di tanam di Wall Street jatuh nilainya. Meskipun di tahun-tahun berikutnya perekonomian mulai pulih, tetapi tidak dengan keuangan Fisher. Dia harus menanggung banyak utang, aset yang merosot nilainya, dan pertentangan dengan pihak pajak.

Dengan berbagai permasalahan yang datang, akhirnya pada tahun 1947 dia kalah melawan kanker yang dideritanya dan meninggal. Penulis otobiografinya menyebutkan, ”Usahanya membuat dirinya menjadi pembaru yang paling terkenal dan paling gagal. Kesalahannya dalam menilai pasar membuat dia harus kehilangan kekayaannya, usahanya, dan rumahnya... Dia gagal sebagai pengusaha, investor, penasihat kebijakan, politisi, penerbit, eugenicist, pejuang kesehatan, dan gagal sebagai dewa penolong.”

Sumber bacaan: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: Te Lives and Ideas of the Great Thingkers”, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso.

[+/-] Selengkapnya...

Model Moneter Fisher: Ada yang Salah?

Teori Kuantitas Uang

Kontribusi Irving Fisher paling terkenal adalah buku The Purchasing Power of Money (1911). Ini adalah buku yang membuat Fisher menjadi ekonomi jajaran atas. Dalam buku ini, Fisher memperkenalkan rumus matematika untuk model moneternya, yakni teori kuantitas uang. Tema utama dari teori kuantitas uang adalah inflasi terutama disebabkan oleh ekspansi uang dan kredit, dan ada hubungan langsung antara perubahan dalam tingkat harga dan perubahan dalam persedian uang. Jika persediaan uang dinaikkan, harga juga akan naik.



Untuk memperjelas teorinya, Fisher melangkah lebih jauh. Dia mengembangkan persamaan matematika untuk merepresentasikan teorinya. Dia mengawali dengan “persamaan pertukaran” antara uang dan barang:

M x V = P x Q, dimana:
M (money) = kuantitas uang yang beredar
V (velocity) = kecepatan uang, atau perputaran uang tahunan
P (price) = tingkat harga umum
Q (quantity output) = Quantitas barang yang dihasilkan dalam setahun.

Sisi kanan (M x V) merupakan gambaran tranfer uang, sedangkan sisi kiri (P x Q) menggambarkan tranfer barang. Nilai barang harus sama dengan jumlah niali uang yang berpindah dalam setiap pertukaran. Atau, jumlah total uang yang beredar yang dikalikan dengan rata-rata berapa kali uang berpindah tangan dalam setahun harus sama dengan jumlah harga barang dan jasa yang diproduksi dan dijual sepanjang tahun itu.

Persamaan pertukaran ini bukan teori, tetapi merupakan suatu kebenaran tautologis.

Tetapi Fisher mengubah persamaan pertukaran ini menjadi teori. Dia berasumsi bahwa V dan Q relatif stabil dan karena itu perubahan dalam tingkat harga secara langsung berkaitan dengan perubahan dalam persediaan uang.

Apa yang Salah dengan Pemikiran Fisher?

Apa yang menyebabkan Fisher dari seorang jutawan menjadi orang yang bangkrut ketika dia meninggal adalah karena kesalahan dalam memprediksi datangnya kejatuhan finansial terbesar di abad 21 di Amerika Serikat. Kesalahan ini muncul karena apa yang ada dalam visi moneternya tidak lengkap, yaitu pendekatan ”makronya” terlalu berlebihan terhadap teori moneter. Dia tidak mau melihat adanya dinamika di dalam ekonomi moneter. Jika membahas uang, Fisher mengabaikan teori perilaku individu dan mikroekonomi. Sebaliknya, dia memandang uang melalui kacamata agregat luas. Dia melihat pada kecenderungan ekonomi secara umum, sperti seperti seberapa besar uang dan kredit bertambah di dalam ekonomi, tetapi dia tidak melihat bagaimana cara individu dan institusi mendapatkan uang. Dia memonitor apa yang terjadi pada tingkat harga umum dan membuat indeks harga, tetapi dia mengabaikan bagaimana harga individual berperandalam penciptaan harga di dalam perekonomian. Dia mengukur output industri negara, tetapi tidak melihat pada naik turunnya pasar dan industri. Intinya, Fisher cenderung untuk melihat secara umum dan enggan melihat secra terpisah-pisah.

Sumber bacaan: Mark Skousen, ”The Making of Modern Economics: Te Lives and Ideas of the Great Thingkers”, diterjemahkan oleh Tri Wibowo Budi Santoso.

[+/-] Selengkapnya...

Malthus dan Kebijakan Satu-Anak di Cina

Tidak ada negara yang mengadopsi kebijakan kontrol populasi yang lebih ketat ketimbang Cina komunis. Meskipun pemikiran Malthus bertentangan dengan doktrin Marxis, tetapi permasalahan jumlah penduduk Cina yang selalu bertambah setiap tahunnya sampai tahun 1970-an menyebabkan pemerintahan komunis China melakukan dua perubahan dalam upaya menyeimbangkan sumber daya dan pertambahan jumlah penduduk Cina. Mereka membebaskan perekonomian dan menerapkan aturan satu anak.

Ekonomi baru yang bebas berhasil menstimulasi pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan satu anak berhasil mengurangi pertambahan penduduk. Dewasa ini penduduk Cina lebih dari satu miliar, tetapi pertambahan penduduknya menurun menjadi satu persen per tahun. Meskipun demikian, Cina harus membayar mahal atas campur tangannya dalam kehidupan pribadi warga negaranya.

  1. Tingkat aborsi meroket di Cina, terutama untuk janin perempuan (penduduk Cina lebih suka punya anak laki.
  2. Cina menghadapi persoalan penuaan yang serius, karena semakin banyak penduduk usia lanjut dan relatif sedikitnya usia muda yang bekerja untuk menopang mereka.
  3. Cina mengalami kesenjangan jumlah antara pria dan wanita. Pria Cina lebih sulit mencari pasangan dan banyak yang mengambil perempuan atau budak dari negeri lain.
  4. Keluarga Cina tradisional yang besar pelan-pelan mulai terpecah-peceh.

Di bawah ini adalah makna dari kebijakan satu anak bagi penduduk Cina:

Tidak ada saudara pria
Tidak ada saudara wanita
Tidak ada sepupu
Tidak ada keponakan
Tidak ada paman
Tidak ada bibi
Tidakada kemenakan
Serta empat kakek-nenek dan dua orang tua mengasuh satu anak!!

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 04 April 2008

J.M. Keynes

Jika seseorang terlalu lama menyendiri, khususnya di dalam bidang ekonomi, kadang-kadang dia mempercayai sesuatu yang bodoh dan mengherankan.

[+/-] Selengkapnya...

Sun Tzu 2

Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik,
padahal tidak.
Jenderal yang memenangkan setiap pertempuran
bukanlah jagoan sejati.
Membuat musuh kalah tanpa bertempur
itulah kuncinya.
Lebih baiklah menjaga keutuhan negeri
daripada menghancurkannya.
Mengalahkan lawan tanpa bertempur
Itulah puncak kemahiran.

[+/-] Selengkapnya...

Sun Tzu

Umpanlah Mereka dengan bayangan untung, bingungkan dan silaukan mereka.
Gunakanlah amarah untuk membuat mereka murka,
rendah hatilah agar mereka sombong.
Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar,
bikin mereka bertengkar sendiri.

Serang mereka di saat mereka tidak menduganya,
di saat mereka lengah.

Haluslah agar kau tidak terlihat.
Misteriuslah agar kau tak teraba.
Maka kau akan kuasai nasib lawanmu.

[+/-] Selengkapnya...

Seni Perang Sun Tzu

Setahu saya Sun Tzu lebih dikenal sebagai seorang ahli strategi perang. Tapi banyak pemikirannya dipakai sebagai dasar berpijak bagi orang-orang, bukan hanya yang bergerak pada bidang militer, bahkan bisa dipakai para CEO dalam menjalankan bisnisnya. Sikap lebih memilih kecerdikan ketimbang kekuatan kasar membuat Sun Tzu menduduki tempat terhormat dalam rak buku para diplomat, jenderal dan manajer perusahaan. Sarat dengan ungkapan lugas dan peribahasa provokatif, Seni Perang dipelajari tekun oleh para pengusaha dan investor Asia, seperti sebelumnya oleh Mao Tse-tung, Ho Chi-minh, dan Vo Nguyen Giap. Kata orang Jepang, “politik itu bisnis, dan bisnis adalah perang.” kalau pasar adalah medan perang, yang mengharuskan strategi dan taktik, Sun Tzu menulis ajaran suci ini:


Umpanlah Mereka dengan bayangan untung, bingungkan dan silaukan mereka.
Gunakanlah amarah untuk membuat mereka murka,
rendah hatilah agar mereka sombong.
Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar,
bikin mereka bertengkar sendiri.

Serang mereka di saat mereka tidak menduganya,
di saat mereka lengah.

Haluslah agar kau tidak terlihat.
Misteriuslah agar kau tak teraba.
Maka kau akan kuasai nasib lawanmu.




Tidak heran banyak pebisnis dari barat bingung dan merasa dimanipulasi oleh rekan bisnis Asianya.


Gunakanlah mata-mata dan pengelabuan dalam setiap usaha. Segenap hidup ini dilandaskan pada tipuan.


Setelah membaca Seni Perang pun banyak pemikir militer yang gagal memahami bahwa bagi Sun Tzu perang adalah kegagalan. Menang itu sangat penting, tetapi seni perang adalah menang tanpa bertempur.


Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik,
padahal tidak.
Jenderal yang memenangkan setiap pertempuran
bukanlah jagoan sejati.
Membuat musuh kalah tanpa bertempur
itulah kuncinya.
Lebih baiklah menjaga keutuhan negeri
daripada menghancurkannya.
Mengalahkan lawan tanpa bertempur
Itulah puncak kemahiran.



Ada saatnya untuk menggencarkan kekuatan. Semua kemungkinan lain harus lebih dulu diupayakan mati-matian, termasuk berbalik dan lari.

Di antara yang mempraktekkan pemikiran Sun Tzu, yang paling lihai mungkin adalah orang Jepang. Ketika kalah dalam perang di tahun 1945, mereka meninggalkan model militer Prusia dan silaunya revolusi industri dan kembali ke Sun Tzu. Dengan bimbingan Sun Tzu, mereka membangun kembali Kawasan Asia Timur Raya Jepang tanpa menembakkan peluru.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 02 April 2008

Kekuatan Penawaran dan Permintaan

Penawaran dan permintaan adalah dua kata yang paling sering digunakan oleh kaum ekonom. Alasannya tidak lain adalah karena keduanya merupakan kekuatan yang membuat ekonomi pasar bekerja dengan baik. Keduanya menentukan jumlah barang yang dihasilkan dan juga harga jual dari barang itu. Jika ingin tahu bagaimana suatu kejadian atau kebijakan dapat mempengaruhi perekonomian, harus terlebih dahulu membayangkan bagaimana pengaruh kebijakan tersebut terhadap penawaran dan permintaan.

Istilah penawaran dan permintaan merujuk pada perilaku di masyarakat ketika terjadi interaksi di pasar. Pasar (market) adalah sekelompok pembeli dan penjual dari suatu barang atau jasa. Sebagai suatu kelompok, para pembeli menentukan seberapa banyak permintaan barang tersebut, dan sebagai suatu kelompok yang lain, para penjual menentukan seberapa banyak penawaran barang tersebut.

Ketika pergi ke toko untuk membeli sesuatu, itu berarti anda sedang memberi kontribusi pada permintaan terhadap sesuatu. Ketika mencari pekerjaan, anda memberi kontribusi kepada penawaran tenaga kerja. Karena penawaran dan permintaan adalah fenomena ekonomi yang sangat umum, model dari penawaran dan permintaan adalah alat yang sangat baik untuk analisis.

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 01 April 2008

Developing an Online Strategy

By BNET Editorial
published on BNET.com 12/18/2007

An increasing number of marketing activities including advertising, direct marketing, relationship-building, customer service, and channel support are now Internet-based. It’s essential to identify the activities that can move effectively to the Web and ensure that they're produced to the same rigorous standards as traditional marketing activities. An online strategy can reduce the costs of doing business by making it easier and quicker to provide information. In the longer term, it can provide a basis for better collaboration with customers, suppliers and business partners.



What You Need to Know


Is online strategy different to traditional business and marketing strategy?
As many of the dot.com pioneers found, the basics of business and marketing do not change. An online strategy will not succeed unless it offers the right products or services to the right target audience. An online strategy offers more options for reaching the market and delivering certain types of product or service. Traditional marketing methods, such as advertising, direct mail and public relations continue to be widely used, but online marketing techniques add a new dimension to the marketing mix.

What to Do

Set Your Objectives
You can develop an online strategy that complements your existing business and marketing strategy, or you may wish to move all your resources into an online strategy. You can use an online presence to achieve a number of important objectives, including:
• raise awareness among a wider audience
• market your products across a wider geographical territory
• reduce the cost of sales and marketing
• increase the accuracy and efficiency of marketing
• reduce the cost of customer service
• improve convenience for customers
• increase customer retention.

Plan Your Web Site Strategy
Your Web Site is at the heart of your online strategy. Depending on the nature of your business, your Web Site can have many different roles, but everything within your site should have one purpose—to get your visitors to take action. Ultimately, that means placing an order with you online or offline—but the Web Site can support many of the processes before and after the sale:
• request or download product and service information
• read case studies
• find out about your company
• contact you to request a sales call
• find out about support services
• request delivery details
• get answers to technical queries.
To support those processes, you need to plan the right content for your Web Site and build in facilities to deliver services and information in a convenient cost-effective way.

Develop Products for Online Delivery
While the Internet has made it possible for customers to select and order most types of business or consumer products online, there is also a range of digital products and services that can be delivered directly from a Web Site. These include:
• software;
• information services;
• research reports;
• consultants’ reports;
• news services.

Communicate Quickly and Precisely with E-mail

E-mail is the most widely-used form of online marketing and should therefore be an integral part of your online strategy. Regular contact is the key to success in e-mail marketing. When customers first visit a site, it is unlikely that they will make an immediate purchase. They will be gathering information to make better purchase decisions. E-mail allows you to continue delivering relevant information and moving the customer toward a purchase. You could use e-mail to alert customers to special offers, new product features, price reductions or other promotional activity.

Capture Data on Your Site
An important element in your online strategy is capturing and using visitor data. Capturing data in the right way can have an impact on your ability to acquire and retain customers. However, asking for too much information can put people off, so you should define your data capture strategy carefully:
• Specify the data you actually need to achieve the objectives of your business
• Keep compulsory data to a bare minimum, to maximize consumer registrations and transactions
• Make data that is useful, but not essential voluntary
• Only ask customers for information that you intend to use to benefit them, for example to provide a personalized service or speed up response time
• Define how you plan to identify and track users, either by logins or the use of “cookies”
• Add a “Comments” textbox asking for visitor’s input. This can provide even more valuable qualifying information
• Include a check box asking the visitor if he or she wishes to receive further information from your company.

Use Microsites to Encourage Action
A microsite or landing page is a Web Site page that is designed to persuade the site visitor to convert into a customer by completing a form and becoming a qualified lead, signing up for a newsletter or other online service, or making a purchase. Microsites provide a simple, responsive fulfillment mechanism for customers responding to your advertising or direct marketing campaigns. The microsite takes the customer straight to the relevant location on the Web Site, reducing the risk of their dropping out of the purchasing process, as well as giving a more satisfying customer experience.

Offer Personalized Service
You can use online marketing to build a one-to-one relationship with your customers. Database technology supports a level of personalization that can deliver highly tailored products and services to specific individuals. Each time a customer logs onto a Web Site, the database can pull together purchase history and personal preferences as a basis for a highly personalized response. By giving customers a single point of entry, you can increase customer loyalty and learn more about their purchasing patterns. That provides an excellent basis for adding value and developing new products and services.

Measure Marketing Results
Online marketing by e-mail or banner advertising makes it easier to measure response to your campaign. When customers visit your Web Site, you can monitor their activity by analyzing the pages they take, or the download requests they make. Unlike traditional media which require customers and prospects to make a phone call, mail a letter, or go to a store, online marketing is seamless.

Provide Useful Information on Your Web Site

Your Web Site should provide a source of useful information for customers and prospects. You should therefore include:
• copies of white papers and case studies for downloading;
• bulletins on research you are carrying out;
• electronic copies of your customer magazines;
• copies of seminar or conference papers delivered by your own speakers;
• copies of published articles or news items that demonstrate thought leadership
• details of events in which your company is participating;
• Weblogs commenting on industry issues;
• archive copies of Webcasts or podcasts for downloading.

Make it easy for visitors to find product information on your Web Site by:
• converting your publications to PDFs so that visitors can download them;
• creating a library listing all the publications available with a brief description of each;
• placing links to publications on pages where you describe relevant products or industry solutions.

Build Community

You can encourage visitors to return more frequently by setting up a virtual community on your Web Site. Facilities to support the community could include, newsletters, discussion groups, and information. Online discussion facilities allow users to post messages offering helpful information or requesting help or further information from other members of the community. This can help you build closer relationships with customers and gain insight into business and technical issues that affect them.

Offer Customers Self-Service

You can use your Web Site to offer customers self-service facilities. That means you can deliver service around the clock, without tying up key staff. It also enables you to reduce your telephone-based support facilities by transferring support resources to the Web Site. Self-service is important to a number of sales and customer service processes:
• delivery of information
• direct sales
• sales administration
• customer support
• technical support

With self-service, customers can obtain information on products, prices, features, and order status from a Web Site; they can place orders directly and obtain delivery information. They can also make support requests or get online answers to technical queries. Customers recognize the value of these services—many having reported significant savings in productivity through improved support and sales administration management.

Encourage Online Collaboration
As part of your longer-term online strategy, you can encourage customers, suppliers, and business partners to work collaboratively, strengthening relationships and improving the product development process. There are a variety of tools and technologies to support communication and collaboration between parties, including:
• e-mail to exchange drawings, models, and project information;
• meetings held by teleconferencing, videoconferencing, or Webconferencing;
• project Web Sites to create a single source of project documentation, with e-mail alerts for updates.

These tools help to create a “virtual project room” where users can share digital product information for interactive design reviews, collaborative design sessions, or information sharing, regardless of their location.


What to Avoid

You Ignore Marketing Basics

Internet marketing has introduced a variety of new techniques. However, it is easy to be seduced by the technology of Internet marketing and ignore marketing basics. Your online strategy, like your traditional marketing strategy, must target the right people with products and services that meet their needs, use promotion and pricing to increase sales, and build strong relationships to maintain customer loyalty. At the same time, make sure your site is easy to navigate; simplify ordering and payment; and ensure that fulfillment is effective. If customers find it difficult to buy from you, your investment in online marketing is wasted.


Where to Learn More


Book:

Chaffey, Dave, Internet Marketing: Strategy, Implementation and Practice, 3rd ed. Prentice Hall,
2006.

Web Site:

e-consultancy: www.e-consultancy.com/publications/managing-ecommerce-team

Copyright © 2007 CNET Networks, Inc. All Rights Reserved.



[+/-] Selengkapnya...