Jumat, 04 April 2008

Seni Perang Sun Tzu

Setahu saya Sun Tzu lebih dikenal sebagai seorang ahli strategi perang. Tapi banyak pemikirannya dipakai sebagai dasar berpijak bagi orang-orang, bukan hanya yang bergerak pada bidang militer, bahkan bisa dipakai para CEO dalam menjalankan bisnisnya. Sikap lebih memilih kecerdikan ketimbang kekuatan kasar membuat Sun Tzu menduduki tempat terhormat dalam rak buku para diplomat, jenderal dan manajer perusahaan. Sarat dengan ungkapan lugas dan peribahasa provokatif, Seni Perang dipelajari tekun oleh para pengusaha dan investor Asia, seperti sebelumnya oleh Mao Tse-tung, Ho Chi-minh, dan Vo Nguyen Giap. Kata orang Jepang, “politik itu bisnis, dan bisnis adalah perang.” kalau pasar adalah medan perang, yang mengharuskan strategi dan taktik, Sun Tzu menulis ajaran suci ini:


Umpanlah Mereka dengan bayangan untung, bingungkan dan silaukan mereka.
Gunakanlah amarah untuk membuat mereka murka,
rendah hatilah agar mereka sombong.
Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar,
bikin mereka bertengkar sendiri.

Serang mereka di saat mereka tidak menduganya,
di saat mereka lengah.

Haluslah agar kau tidak terlihat.
Misteriuslah agar kau tak teraba.
Maka kau akan kuasai nasib lawanmu.




Tidak heran banyak pebisnis dari barat bingung dan merasa dimanipulasi oleh rekan bisnis Asianya.


Gunakanlah mata-mata dan pengelabuan dalam setiap usaha. Segenap hidup ini dilandaskan pada tipuan.


Setelah membaca Seni Perang pun banyak pemikir militer yang gagal memahami bahwa bagi Sun Tzu perang adalah kegagalan. Menang itu sangat penting, tetapi seni perang adalah menang tanpa bertempur.


Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik,
padahal tidak.
Jenderal yang memenangkan setiap pertempuran
bukanlah jagoan sejati.
Membuat musuh kalah tanpa bertempur
itulah kuncinya.
Lebih baiklah menjaga keutuhan negeri
daripada menghancurkannya.
Mengalahkan lawan tanpa bertempur
Itulah puncak kemahiran.



Ada saatnya untuk menggencarkan kekuatan. Semua kemungkinan lain harus lebih dulu diupayakan mati-matian, termasuk berbalik dan lari.

Di antara yang mempraktekkan pemikiran Sun Tzu, yang paling lihai mungkin adalah orang Jepang. Ketika kalah dalam perang di tahun 1945, mereka meninggalkan model militer Prusia dan silaunya revolusi industri dan kembali ke Sun Tzu. Dengan bimbingan Sun Tzu, mereka membangun kembali Kawasan Asia Timur Raya Jepang tanpa menembakkan peluru.

0 komentar: